Tuesday, May 5, 2015

Catatan Guru Ngehe Saat Hardiknas

Sebagai guru ngehe dan pemilik blog abal2 ini rasanya gak afdol ya kalau g ikut ngebahas hari pendidikan nasional yang baru saja lewat. Hari yang tahun ini bikin saya lumayan sebal, bukan karena apa2 Sich... cuma Kok jatuhnya di hari sabtu jadinya berubah jadi harpitnas alias hari kejepit nasional secara jumat tanggal merah tapi sabtu saya musti tetap ke sekolah...

hari yang menurut saya sudah kehilangan esensi ditengah masih banyaknya anak2 Indonesia yang tidak bisa menempuh dan memperoleh pendidikan yang layak hanya karena persoalan biaya. .

Menurut pengamatan sotoy saya, hardiknas sekarang sisa berputar diseremoni dan lomba2, yang pelaksanaannya butuh dana berjuta2 untuk mencetak siswa berprestasi dibidang seni dan olah raga katanya  yang ditutup dengan pembagian piala di upacara peringatan sebagai puncaknya sampe lupa dengan sejarahnya sendiri bagaimana susahnya sampe sekolah Taman Siswa bisa ada.
entahlah, saya yang skeptis atau gimana. Toh, saya juga belum berbuat banyak demi kemajuan pendidikan bangsa. Mengajar selain passion juga masih karena supaya kompor bisa tetap menyala.

kata teman saya ada dua jenis guru dalam sistem pendidikan sekarang, entahlah dia ngutip dari siapa kalau ada yang tau bolehlah di bagi di sini. Guru kurikulum dan guru inspiratif. Guru kurikulum yaitu guru yang ngajar gak pernah melenceng dari text book dengan berpedoman pada silabus dan RPP yang telah disediakan yang semuanya sesuai dengan apa yg diatur pemerintah, guru yang katanya sudah merasa puas kalau nilai2 siswa yang diajarnya bagus saat ujian guru yang cuma MENGAJAR bukan MENDIDIK. Satu lagi guru inspiratif, guru yang tidak hanya mengajar tapi sekaligus mendidik, yang gak cuma berdasar kurikulum tapi juga bisa menginspirasi siswanya. Menjadi suri tauladan dan bisa membuka wawasan berfikir para pelajar supaya satu langkah kedepan. saya sendiri guru masuk kategori ke 3, guru yang kriterianya saya buat sendiri. Guru in the middle of nowhere masih amburadul dari segi kurikulum dan masih jauh dari kata inspiratif.

sebagai guru saya tau dengan jelas kita dituntut tidak hanya mengajar tapi memberi inspirasi, menanamkan karakter dan budi pekerti luhur kepada siswa yang diaajar demi mencetak generasi bangsa mumpuni. Berat memang, inshaallah sebandinglah dengan ganjaran pahala. Bukankah ada yang bilang guru itu juga merupkan orang tua kedua.

kata orang2 pekerjaan berat ini sebandinglah karena sekarang guru2 sudah di beri double gaji. Tunjangan sertifikasi namanya, tunjangan bagi para guru profesionl katanya. Kalau dulu profesi guru ini di pandang sebelah mata sekarang sudah bisa masuk dalam jajaran idola karena adanya tunjangan ini.

tapi mirisnya selain meningkatkan kesejahtraan adanya sertifikasi ini juga menimbulkan persaingan. Bukan persaingan meningktkan mutu tapi persaingan rebutan jam. Secara, untuk dapat sertifilasi ini harus memenuhi target mengajar 24 jam seminggu. Kalau gak cukup di sekolah tempat tugasnya sampe harus nyari jam tambahan di sekolah lain yang klau disini tak jarang sampe lintas kecamatan. Selain itu dananya juga sering tersendat2 yang harusnyadi bayar bulan sekian jatuhnya bulan sekian. Belum lagi birokrasi pemberkasan yang ribet dan berbelit sampe bisa bikin mumet dan sembelit. Bikin guru jadi gak konsen ngajar karena harap2 cemas apakah nama sudah ada di SK dirjen dan kartu atm jadi aus saking keseringan di cek dana serti sudah cair atau belum.

jadi, dalam rangka momentum hardiknas ini bisakah saya minta birokrasi ini di persingkat saja, selain itu bisakah ada pemerataan pendidikan di kota dan di desa meskipun terlalu naif rasanya. Utamanya kesempatan seluas2nya memperoleh pendidikn dan fasilitas belajar yang baik.
saya mengerti pemerintah melalui kemendikbud sudah berusaha sebik2nya memberikan layanan pendidikn bagi semu rakyatnya ini terbukti dari porsi dana pendidikn yg cukup besar di APBN. Saya cuma mau minta tolong satu hal.... tolong persingkatlah segala birokrasi dalam dunia pendidikan baik itu untuk dana BOS, sertifikasi, BSM maupun bantuan2 yang lain. Semoga dengan efisiensi, pendidikan bisa menjangkau lebih banyak kalangan.



MAJU TERUS PENDIDIKAN INDONESIA





Salam Saya
yang dengan PDnya ngaku2 sebagai guru



RheY  

12 comments:

  1. ampuuunnn klo soal birokrasi, klo tidak menyusahkan mah bukan birokrasi namanya kaleeee Buuukk..

    eehh anyway busaway, saya menunggu lah ini Mamak Solmet dapat bonus sertifikasi #eeh Aamiin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha aamiin... masih lama atuh masih butuh 4 thn lg blm tentu lulus jugak :p

      Delete
  2. kadang klo denger guru bercerita, pengen jadi guru ngajar... cuma yah g itu enggak ada bakat ngajar, dan ga semua pelajaran g suka wakakaka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo cobain dl jd guru sehari kan banyak skr hehehehehe

      Delete
  3. salut deh sama guru yang ngajar dan bisa sabar di depan banyak murid

    ReplyDelete
    Replies
    1. Well, sepertinya saya bukan tipe ituh mbak hehehehe

      Delete
  4. Semoga mmg ada perkembangan di sistem pendidikan di negara kita yaa...amin!

    ReplyDelete
  5. Semoga ngga cumak BOS aja yang ada ya Mbak, tapi mesti bantuan laen kayak fasilitas sekolah yang mumpuni bisa dirasakan oleh semua siswa.. :D

    ReplyDelete
  6. Hehhehe bikin spek kriteria sendiri,.gaji juga minta kriteria sendiri. Hehhehe...
    Enak jadi guru kali ya..?
    Kalau lihat waktu sekolah sih lihat guru guru enak banget. Kerja jam 2 dah pulang, dihormati di lingkungan masyarakat, n sabtu ada yang libur.

    ReplyDelete
  7. Iya tantangan guru berat:
    buat generasi berikutnya jadi lebih pintar, baik hati an tidak sombong :)

    ReplyDelete